← All Insights

Surplus Nikel Global Diperkirakan Naik Jadi 70.000 Ton pada 2027

Rangkuman eksekutif. Pasar nikel primer global diperkirakan tetap surplus pada 2027, tetapi besarnya surplus sangat bergantung pada realisasi produksi, terutama di Indonesia. Bagi produsen dan pengolah, ketidakpastian pasokan menjadi variabel penting ketika menyusun rencana produksi dan kontrak untuk tahun depan.

Angka yang perlu diperhatikan

International Nickel Study Group (INSG), dalam hasil pertemuan 12–13 Oktober 2026, memperkirakan produksi nikel primer global sebesar 3,868 juta ton pada 2026 dan 4,071 juta ton pada 2027. Penggunaannya diproyeksikan masing-masing 3,849 juta ton dan 4,002 juta ton.

Selisih antara produksi dan penggunaan tersebut menghasilkan perkiraan surplus 19.000 ton pada 2026 dan 70.000 ton pada 2027. Sebagai konteks, INSG memperkirakan pasar mencatat surplus 299.000 ton pada 2025. Dengan demikian, surplus 2027 diperkirakan membesar dibanding 2026, tetapi tetap jauh lebih kecil daripada perkiraan untuk 2025.

Mengapa Indonesia menjadi variabel utama?

INSG mencatat bahwa kuota produksi bijih nikel Indonesia yang disetujui untuk 2026 lebih rendah daripada 2025. Pengajuan RKAB 2027 dibuka pada 1 Oktober dan dijadwalkan hingga 15 November 2026. INSG juga secara eksplisit mengakui ketidakpastian proyeksi, khususnya mengenai tingkat produksi Indonesia. Angka produksinya belum memasukkan faktor penyesuaian atas kemungkinan gangguan produksi.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan produksi baja nirkarat global pada semester pertama 2026 dilaporkan sebesar 5% secara tahunan. INSG memperkirakan ekspansi sektor tersebut berlanjut hingga 2027. Penjualan kendaraan listrik diperkirakan hanya tumbuh moderat pada 2026 dan pulih pada 2027, sementara penggunaan nikel dalam baterai berkembang lebih lambat dari perkiraan sebelumnya karena persaingan kimia lithium iron phosphate (LFP).

Implikasi untuk keputusan bisnis

Analisis Kelas Tambang: angka surplus global sebaiknya tidak langsung diterjemahkan menjadi asumsi harga atau utilisasi pabrik tertentu. Untuk penyusunan anggaran 2027, perusahaan perlu memisahkan setidaknya tiga skenario: volume bijih yang benar-benar dapat dipasok, kapasitas pengolahan yang realistis, serta permintaan dari jalur baja nirkarat dan baterai. Kesenjangan antarketiganya dapat lebih penting bagi arus kas perusahaan daripada angka surplus global saja.

Pertanyaan untuk manajemen

  • Seberapa sensitif rencana produksi 2027 terhadap tingkat persetujuan dan realisasi RKAB pemasok bijih?
  • Apakah perhitungan margin masih layak pada skenario utilisasi yang lebih rendah?
  • Apakah kontrak penjualan dan pasokan mencerminkan perbedaan risiko pasar baja nirkarat dan baterai?

Catatan sumber: INSG, October 2026 Meetings, siaran pers 13 Oktober 2026. Angka di atas merupakan prakiraan, bukan hasil realisasi. Interpretasi komersial diberi label sebagai analisis Kelas Tambang.