Koreksi 0,5–1 dolar per ton di level HPM dan koreksi biaya bisa berarti jutaan dolar per tahun ketika dikalikan volume produksi dan kontrak jangka panjang. Proyek yang tampak bankable di atas kertas bisa bergeser masuk zona margin negatif begitu formula baru dan faktor biaya lapangan (termasuk sulphur untuk HPAL) ikut dihitung. Pertanyaannya: Anda mau menemukan selisih itu di spreadsheet Anda sendiri, atau di laporan rugi laba?
* CFO dan Commercial Head dari seluruh Indonesia akan hadir. Apakah Anda salah satunya?
Sejak 15 April 2026, Kepmen ESDM No. 144/2026 resmi mengubah formula HPM bijih nikel: memasukkan nilai mineral ikutan (Fe, Co, Cr), menyesuaikan corrective factor, dan mengganti basis dari DMT ke WMT, sehingga moisture content ikut diperhitungkan. Perubahan ini otomatis menggeser dasar perhitungan royalti, harga jual beli ore, dan cara smelter serta penambang membaca kelayakan proyek.
Formula baru membuka ruang kenaikan HPM untuk limonite dan saprolite, tetapi tidak selalu sejalan dengan realita transaksi pasar FoB di setiap kasus. Selisih antara HPM, harga aktual, dan struktur biaya di site bisa langsung menggerus profitabilitas tanpa terlihat jelas kalau Anda hanya memakai asumsi lama.
Untuk saprolite, penyesuaian formula and basis WMT berpotensi mendorong nilai HPM dan royalti yang harus dibayar, terutama ketika kadar dan moisture tidak dikelola dengan disiplin. Di tengah kuota RKAB yang terbatas, ruang manuver Anda untuk “menambal” margin dengan mengejar volume makin sempit.
Formula HPM yang baru ikut mengubah harga feedstock bagi pabrik pengolahan dan smelter, sehingga struktur biaya MHP dan produk turunan ikut terdorong. Pada saat yang sama, harga sulphur global melonjak akibat gangguan pasokan, dan kini menyumbang porsi yang lebih besar dalam OPEX HPAL Indonesia.
Kombinasi HPM baru, lonjakan sulphur, dan variabel kadar Ni membuat titik break-even HPAL bergeser — dan titik baru ini tidak selalu intuitif kalau Anda hanya mengandalkan model sebelum 15 April. Pertanyaannya: pada kombinasi kadar, recovery, dan biaya sulphur berapa sebenarnya proyek Anda masih layak?
HPM adalah referensi royalti, negosiasi ore–smelter, and salah satu indikator yang dilihat investor untuk membaca risiko regulasi dan margin sektor nikel Indonesia. Di sisi lain, porsi baterai LFP dalam penjualan EV global terus tumbuh dan telah melampaui baterai berbasis nikel di banyak pasar utama pada 2024–2025.
Artinya, proyek nikel yang tidak disiplin mengelola struktur biaya dan risiko harga bisa cepat kalah menarik dibanding opsi lain di mata pembeli dan pemberi dana. Workshop ini membantu Anda memetakan mana proyek yang masih viable dan mana yang perlu dikaji ulang di bawah struktur biaya dan dinamika baterai sekarang.
Workshop ini dirancang khusus untuk pengambil keputusan yang terdampak langsung oleh struktur biaya baru dan harus mempertanggungjawabkan angka di depan direksi, lender, maupun buyer.
merumuskan ulang kelayakan proyek dan sensitivitas margin.
menyusun skenario harga dan term kontrak pasca-HPM.
menyelaraskan RKAB, produksi, and cashflow.
membawa argumen dan data yang lebih solid.
mengomunikasikan risiko dan peluang ke partner modal.
Dapatkan analisis eksklusif langsung dari para praktisi yang menguasai data riil di lapangan.
SESI PAGI: Bedah Teknis HPM
SESI SIANG: Strategi & Negosiasi
Bukan webinar generik. Pertanyaan langsung, respons langsung dari angka aktual di lapangan.
Investasi 1 hari ini jauh lebih kecil dibanding biaya salah kalkulasi yang terus berjalan setiap bulan.
Pesaing Anda mungkin sudah daftar. Kuota dikunci ketat di 30 peserta.
Pendaftaran reguler
Berlaku s/d H-14 Workshop
Untuk direksi & tim komersial
Hemat Rp 2.250.000
Rekomendasi: Bawa CFO, Commercial Head, dan Direktur Operasional sekaligus agar sinkron.
Keputusan Anda hari ini menentukan bagaimana perusahaan Anda menavigasi turbulensi margin di tahun 2026.
Amankan posisi Anda sebelum pesaing Anda mendaftar.