← All Insights

Dari Ballroom CEO Forum ke Pit Eksplorasi: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Pengalaman PT Puncakbaru di Saudi Arabia?

Jakarta, 30 April 2026: Pagi itu (Rabu, 29 April), ruang ballroom Four Seasons Jakarta sudah penuh dengan peserta conference. Di depan, barisan nama besar industri tambang dan regulator duduk rapi: perwakilan BKPM, Direktorat Jenderal Minerba, para pembicara dari Vale Indonesia, Harita Nickel, Ceria Nugraha Indotama (Ceria Corps) sampai kontraktor besar seperti Pamapersada.

Di depan, satu kursi panelis di sesi kedua diisi sosok yang mungkin belum terlalu populer di headline media, tetapi sangat akrab di dunia eksplorasi: Daud Erikson Silitonga, President Director PT Puncakbaru Jayatama.

Di MGEI CEO Forum 2026 bertema “Exploration as an Investment Strategy: Boosting the Exploration Incentives to Generate the Next Mineral Wealth”, eksplorasi tidak lagi dibahas sebagai “cost center”, tetapi sebagai strategi investasi jangka panjang.

Di Panel Session 2 – “Enabling Exploration Investment Climate: Policy, Data, and Risk‑Sharing Frameworks” – Pak Daud duduk bersama Pamapersada, Far East Gold, dan perwakilan Lemhannas, membedah satu pertanyaan sederhana tapi berat: apa yang membuat eksplorasi pantas dibiayai, di tengah risiko tinggi dan ketidakpastian yang panjang?

Why this matters now: eksplorasi sebagai strategi investasi, bukan sekadar biaya

Beberapa tahun terakhir, narasi industri kita banyak tersedot ke hilirisasi dan smelter. Namun tanpa pipeline cadangan baru, semua rencana hilirisasi dan EV ecosystem akan mentok pada satu titik: tidak ada ore yang cukup, atau kualitas ore yang makin turun. Di sisi lain, hampir semua orang di ruangan itu paham satu fakta pahit yang diulang Pak Daud: kurang dari 1% proyek eksplorasi yang akhirnya benar‑benar jadi tambang, dan butuh hingga 10 tahun untuk membawa greenfield prospect menjadi operasi produksi penuh.

Dengan profil risiko seperti itu, wajar jika banyak owner dan CFO melihat eksplorasi sebagai “pengeluaran yang mudah dipotong”. Namun justru di sinilah letak strateginya: siapa yang berani dan disiplin membangun eksplorasi hari ini, akan memegang kartu cadangan besok. Forum seperti MGEI CEO Forum 2026 memotret pergeseran pemikiran ini – dari sekadar “berapa meter yang kita bor?” ke “bagaimana desain policy, data, dan skema risk sharing yang membuat eksplorasi layak secara ekonomi?”.

Pelajaran dari Puncakbaru: dari “sekolah Newcrest” ke ekspansi Saudi Arabia

PT Puncakbaru Jayatama bukan pemain baru. Sejak 1991, perusahaan ini lahir sebagai exploration arm Newcrest di Indonesia, terlibat dalam penemuan deposit emas besar seperti Tambang Emas Gosowong di Halmahera Utara, dengan total sumber daya hampir 9 juta ons dan produksi lebih dari 6 juta ons emas. Setelah Newcrest keluar dari Indonesia pada 2020, Puncakbaru tidak bubar; mereka bertransformasi menjadi exploration service company dan technical operator untuk berbagai klien, termasuk di komoditas nikel.

Lompatan berikutnya terjadi ketika mereka mulai mengerjakan proyek eksplorasi di Saudi Arabia. Mulai aktif sekitar 2024, Puncakbaru kini terlibat dalam delapan konsesi eksplorasi di sana, bersama mitra lokal. Pengalaman inilah yang dibawa Pak Daud ke panggung panel: bagaimana rumah eksplorasi yang lahir di Indonesia bisa bermain di yurisdiksi baru, dengan policy, struktur pembiayaan, dan standar data yang berbeda.

Ada beberapa poin penting yang ia soroti:

  • Policy yang jelas dan pro‑eksplorasi. Saudi menyediakan kerangka regulasi yang relatif sederhana, izin yang cepat, serta kepastian hukum, termasuk memberikan ruang kepemilikan asing hingga 100% dan pendanaan sampai sekitar 75% capital cost untuk proyek yang masuk kriteria.
  • Data geologi yang terpusat dan tervalidasi. Pemerintah melakukan QA/QC atas data dan menyediakannya dalam sistem terintegrasi yang bisa diunduh, sehingga tim Puncakbaru dapat melakukan desktop study dari Indonesia sebelum turun ke lapangan.
  • Skema risk sharing yang variatif. Di panel, Daud menekankan tiga pola yang lazim di industri: joint venture, farm‑in/farm‑out, dan technical partnership – dengan Puncakbaru mengambil posisi sebagai technical partner dan exploration operator yang mengontrol biaya dan kualitas kerja teknis.

Buat para peserta yang sehari‑hari bergelut di RKAB, negosiasi IUP, atau mencari funding eksplorasi, cerita ini memberikan gambaran konkret bahwa “capability made in Indonesia” bisa di‑export – asal disiplin teknis dan desain bisnisnya kuat.

Dampak ke bisnis: margin, cashflow, dan bankability eksplorasi

Di atas kertas, eksplorasi memang mudah disebut “investasi jangka panjang”. Tantangannya, angka yang harus dikeluarkan sering kali sangat nyata di cashflow satu sampai tiga tahun pertama, sementara hasilnya masih jauh di depan atau bahkan tidak pernah datang. Di panel, Pak Daud memberi contoh bagaimana mereka memecah kebutuhan dana eksplorasi menjadi beberapa tahap, misalnya kebutuhan total 10 juta dolar, tetapi untuk enam bulan pertama cukup mengalokasikan 500 ribu sampai 1 juta dolar untuk menjawab pertanyaan dasar: “prospek ini go atau no‑go?”.

Pendekatan bertahap ini punya implikasi langsung ke:

  • Manajemen margin: owner tidak langsung mengunci capital besar di satu prospect, tetapi memberi ruang untuk mengalihkan dana ke peluang yang lebih menjanjikan jika data awal tidak mendukung.
  • Cashflow perusahaan: eksplorasi bisa di‑align dengan arus kas operasional atau pendanaan, tidak harus “all in” di depan, sehingga lebih mudah dicerna oleh CFO dan komite investasi.
  • Bankability proyek: bagi investor atau lender, ada comfort ketika eksplorasi berjalan dengan jelas, didukung QA/QC data, dan risk sharing yang transparan, bukan sekadar “boring tanpa milestone”.

Di sinilah peran technical operator seperti Puncakbaru menjadi krusial. Mereka bukan hanya menjalankan program bor, tetapi juga menjadi “gatekeeper” teknis: memvalidasi data, merancang tahapan eksplorasi, dan membantu investor mengambil keputusan rasional di setiap tahap.

Apa yang dilakukan operator cerdas: policy, data, dan partnership sebagai satu paket

Diskusi panel di MGEI CEO Forum 2026 sebenarnya menunjukkan pola yang konsisten di antara para pemain besar yang hadir: eksplorasi yang sehat lahir dari kombinasi tiga hal – policy yang mendukung, data yang dapat dipercaya, dan desain partnership yang memadai.

  1. Membaca dan memanfaatkan policy
    Operator cerdas tidak hanya mengeluh soal regulasi; mereka membaca dengan detail apa saja insentif dan batasannya. Di Saudi, misalnya, tim Puncakbaru memanfaatkan kemudahan izin, foreign ownership, dan fasilitas pendanaan pemerintah untuk menurunkan risk capital yang harus mereka keluarkan sendiri. Di Indonesia, pendekatannya bisa berupa memahami dinamika RKAB, sinkronisasi pusat‑daerah, dan program pemerintah yang mendorong eksplorasi di frontier area.
  2. Investasi di data sebelum investasi di bor
    Dengan akses ke data terstandar, Puncakbaru bisa melakukan high‑grading target terlebih dahulu dari Jakarta sebelum mengirimkan tim dan rig, menghemat waktu dan biaya awal. Di banyak kasus domestik, mindset yang sama bisa diadopsi dengan memaksimalkan data geologi pemerintah, studi historis, dan teknologi pemetaan/remote sensing yang tepat, bukan langsung “bor dulu, pikir belakangan”.
  3. Merancang partnership untuk berbagi risiko
    Bukan semua perusahaan harus melakukan eksplorasi seorang diri. Joint venture, farm‑in, atau technical partnership seperti yang dipilih Puncakbaru adalah cara untuk membagi risiko dan peran: siapa yang pegang izin, siapa yang pegang kapabilitas teknis, siapa yang membawa pendanaan. Kuncinya, struktur deal harus jelas dari awal – termasuk hak, kewajiban, dan milestone yang memicu perubahan kepemilikan atau pendanaan.

Mini‑framework: 5 pertanyaan yang bisa Anda bawa ke meeting eksplorasi berikutnya

Untuk para praktisi yang membaca artikel ini, berikut mini‑framework yang bisa digunakan saat Anda duduk di rapat RKAB, komite investasi, atau diskusi awal ekspansi:

  1. Policy & izin: Apakah yurisdiksi/provinsi yang kita incar punya kerangka regulasi yang cukup jelas dan dapat ditebak untuk 5–10 tahun ke depan? Apa saja insentif atau hambatannya?
  2. Data: Data apa saja yang sudah tersedia (geologi, geofisika, geokimia, historical drilling)? Seberapa jauh QA/QC‑nya bisa dipercaya, dan berapa biaya tambahan yang dibutuhkan untuk “membersihkan” data tersebut sebelum keputusan besar diambil?
  3. Risk sharing: Apakah struktur kerja sama kita saat ini sudah membagi risiko secara adil antara pemilik IUP, operator teknis, dan pendana? Apakah perlu mempertimbangkan model JV, farm‑in, atau technical partnership seperti yang dipraktikkan Puncakbaru?
  4. Capital gating: Apakah program eksplorasi kita sudah dipecah ke dalam tahapan jelas dengan keputusan go/no‑go, sehingga tidak ada “kebiasaan” menghabiskan puluhan juta dolar tanpa checkpoint?
  5. Capability: Apakah tim internal kita cukup kuat untuk menjalankan semua ini sendiri, atau lebih realistis jika menggandeng exploration service company yang sudah punya rekam jejak di beberapa proyek dan yurisdiksi?

Membawa lima pertanyaan ini ke meja rapat sering kali mengubah diskusi dari sekadar “berapa lubang bor?” menjadi “bagaimana strategi eksplorasi yang sehat untuk bisnis kita lima sampai sepuluh tahun ke depan”.

Soft bridge: dari forum ke ruang kelas

MGEI CEO Forum 2026 memberi ruang bagi praktisi seperti Pak Daud untuk berbagi pengalaman yang biasanya hanya dinikmati di lingkaran sempit tim proyek. Tantangannya sekarang adalah bagaimana membuat insight seperti ini tidak berhenti di ballroom hotel.

Di KelasTambang, kami melihat potensi besar untuk menerjemahkan pengalaman PT Puncakbaru dan para panelis lain menjadi beberapa format pembelajaran:

  • Workshop strategi eksplorasi dan ekspansi aset, yang membedah case Saudi Arabia dan beberapa contoh domestik.
  • In‑house training untuk manajemen dan tim teknis, fokus pada desain program eksplorasi yang bankable, struktur partnership, serta alignment dengan target hilirisasi perusahaan.
  • Diskusi tematik yang menjembatani engineer, finance, dan legal/regulatory agar berbicara dalam bahasa yang sama ketika menggarap proyek eksplorasi.

Bukan untuk menggurui, tetapi untuk menyediakan ruang diskusi yang jujur tentang risiko, biaya, dan keputusan sulit di bisnis eksplorasi – dengan belajar dari mereka yang sudah melewati prosesnya di beberapa negara.

Kalau Anda adalah KTT, exploration manager, atau orang keuangan yang sedang memikirkan ekspansi aset, topik apa yang paling ingin Anda dalami dari pengalaman seperti PT Puncakbaru di Saudi ini: desain deal‑nya, manajemen risiko teknis, atau justru cara mereka membangun tim dan kapabilitas eksplorasi?