← All Insights

Gasifikasi Batu Bara Jadi DME, Langkah Strategis PTBA Perkuat Ketahanan Energi

PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID, mendukung ketahanan energi nasional melalui pengembangan hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Proyek ini dijalankan bersama PT Pertamina (Persero) dan diposisikan sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mewujudkan Asta Cita serta amanat Pasal 33 UUD 1945.

Di tengah dinamika global yang ditandai ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasok, dan fluktuasi harga energi, penguatan ketahanan energi menjadi prioritas banyak negara, termasuk Indonesia. Salah satu tantangan utama Indonesia adalah tingginya ketergantungan terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk kebutuhan rumah tangga dan sektor produktif, yang berdampak pada neraca perdagangan, kebutuhan devisa, dan beban subsidi energi.

Melalui pengembangan hilirisasi batu bara menjadi DME, PTBA bersama Pertamina berupaya menghadirkan energi alternatif berbasis sumber daya dalam negeri sekaligus menciptakan nilai tambah bagi industri batu bara nasional. DME diproyeksikan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti LPG, sehingga dapat membantu mengurangi ketergantungan impor di segmen energi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari‑hari masyarakat.

Pesan Kunci dari Danantara dan MIND ID

CEO/Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani, menegaskan bahwa proyek DME di Tanjung Enim merupakan bagian dari upaya percepatan proyek strategis nasional untuk memperkuat fondasi ekonomi dan energi Indonesia. Ia menyampaikan bahwa, “Pengembangan DME di Tanjung Enim menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, yang saat ini masih mencapai sekitar 80% dari kebutuhan nasional.”

Dalam kesempatan lain, Rosan juga menyebut bahwa pengolahan batu bara menjadi DME adalah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor LPG sekaligus menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Menurutnya, hilirisasi batubara melalui proyek seperti DME membuka peluang industrialisasi berbasis energi domestik serta berkontribusi pada penghematan devisa dan stabilitas pasokan energi nasional.

Komisaris Utama MIND ID, Fuad Bawazier, menegaskan bahwa hilirisasi batu bara menjadi DME merupakan langkah strategis yang memberikan manfaat besar bagi negara, baik yang bersifat langsung (tangible) maupun tidak langsung (intangible). Ia menggarisbawahi bahwa banyak manfaat proyek ini tidak sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan korporasi, namun penting bagi kemandirian energi dan penguatan ekonomi nasional jangka panjang.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menyatakan bahwa proyek hilirisasi batu bara menjadi DME merupakan bagian dari strategi besar untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan batu bara Indonesia. Ia menegaskan, “MIND ID akan terus mendorong sinergi antar anggota grup dan mitra strategis untuk memastikan proyek hilirisasi berjalan optimal dan berkelanjutan, serta memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan energi nasional.”

Posisi dan Komitmen PT Bukit Asam

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menekankan bahwa hilirisasi batu bara menjadi DME merupakan bentuk kesiapan perseroan dalam menjawab tantangan energi nasional sehingga bukan hanya sekadar proyek industri. Ia menjelaskan bahwa proyek ini sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam memperkuat kedaulatan energi, mendorong industrialisasi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta menciptakan lapangan kerja yang produktif dan berkelanjutan.

Senada dengan itu, Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menyatakan bahwa pengembangan DME menjadi bagian dari transformasi bisnis perusahaan dan termasuk dalam Proyek Strategis Nasional yang berperan penting menciptakan sumber energi baru sekaligus menjawab tantangan ketahanan energi nasional. Turino menambahkan bahwa pengembangan DME merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, menghemat devisa, serta memperkuat industri domestik.

Dari sisi teknis dan rantai pasok, PTBA menyiapkan pasokan batu bara domestik sebagai bahan baku utama fasilitas DME. Dalam berbagai pemaparan, kapasitas pabrik DME Tanjung Enim disebutkan sekitar 1,4 juta ton per tahun dengan kebutuhan sekitar 6,9–7 juta ton batu bara per tahun sebagai feedstock, sementara Pertamina disiapkan sebagai pihak yang menyerap dan menyalurkan DME ke pasar domestik.

DME sebagai Pilar Ketahanan Energi Berbasis Sumber Daya Domestik

Melalui proyek DME ini, PTBA dan para pemangku kepentingan mencoba menjawab persoalan struktural ketergantungan impor LPG dengan memanfaatkan kekayaan batu bara Indonesia. Dengan mengalihkan sebagian batubara menjadi DME yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, Indonesia diharapkan dapat mengurangi eksposur terhadap fluktuasi harga dan pasokan LPG di pasar internasional, sekaligus memperkuat bauran energi dalam negeri.

Selain potensi pengurangan impor dan penghematan devisa, proyek ini juga diharapkan memberikan dampak ekonomi yang luas, mulai dari penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan industri pendukung, hingga peningkatan aktivitas ekonomi di daerah sekitar Tanjung Enim. Dengan dukungan langsung pemerintah dan sinergi antara PTBA, Pertamina, MIND ID, serta Danantara, hilirisasi batubara menjadi DME di Tanjung Enim diproyeksikan menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan ketahanan energi nasional yang berkelanjutan.